12/18/2021

download aplikasi terjemah mahally

 


  TERJEMAH KHUTBAH MAHALLY

 المقدمة

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إنْعَامِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ

 Muqaddimah

 Segala puji bagi Allah karena Pemberian nikmatNya. Shalawat dan salam kiranya senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.

 

هَذَا مَا دَعَتْ إلَيْهِ حَاجَةُ الْمُتَفَهِّمِينَ لِمِنْهَاجِ الْفِقْهِ مِنْ شَرْحٍ يُحِلُّ أَلْفَاظَهُ وَيُبَيِّنُ مُرَادَهُ، وَيُتَمِّمُ مُفَادَهُ عَلَى وَجْهٍ لَطِيفٍ خَالٍ عَنْ الْحَشْوِ وَالتَّطْوِيلِ حَاوٍ لِلدَّلِيلِ وَالتَّعْلِيلِ، وَاَللَّهَ أَسْأَلُ أَنْ يَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ حَسْبِي وَنِعْمَ الْوَكِيلُ.

Ini adalah sesuatu yang terdorong kepadanya oleh kebutuhan orang-orang yang ingin memahami Minhaj Fiqih, berupa ulasan yang mengurai kata-katanya, menjelaskan maksudnya dan menyempurnakan faedahnya, dengan format kecil yang bebas dari penambahan yang tidak perlu dan panjang lebar serta mencakup dalil dan pemberian alasan. Hanya kepada Allah aku memohon kiranya Dia menjadikan ulasan ini bermanfaat. Dia cukup bagiku, dan sebaik-sebaik kepercayaan.

 

قَالَ الْمُصَنِّفُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) أَيْ أَفْتَتِحُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ) هِيَ مِنْ صِيَغِ الْحَمْدِ وَهُوَ الْوَصْفُ بِالْجَمِيلِ إذْ الْقَصْدُ بِهَا الثَّنَاءُ عَلَى اللَّهِ بِمَضْمُونِهَا مِنْ أَنَّهُ مَالِكٌ لِجَمِيعِ الْحَمْدِ مِنْ الْخَلْقِ أَوْ مُسْتَحِقٌّ لَأَنْ يَحْمَدُوهُ لَا الْإِخْبَارُ بِذَلِكَ (الْبَرِّ) بِالْفَتْحِ أَيْ الْمُحْسِنِ (الْجَوَادِ) بِالتَّخْفِيفِ أَيْ الْكَثِيرِ الْجُودِ أَيْ الْعَطَاءِ (الَّذِي جَلَّتْ) أَيْ عَظُمَتْ (نِعَمُهُ) جَمْعُ نِعْمَةٍ بِمَعْنَى إنْعَامٍ (عَنْ الْإِحْصَاءِ) أَيْ الضَّبْطِ (بِالْأَعْدَادِ) أَيْ بِجَمِيعِهَا {وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا} [النحل: 18] (الْمَانِّ) أَيْ الْمُنْعِمِ (بِاللُّطْفِ) أَيْ بِالْإِقْدَارِ عَلَى الطَّاعَةِ (وَالْإِرْشَادِ) أَيْ الْهِدَايَةِ لَهَا (الْهَادِي إلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ) أَيْ الدَّالِ عَلَى طَرِيقِهِ وَهُوَ ضِدُّ الْغَيِّ (الْمُوَفِّقِ لِلتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ) أَيْ الْمُقْدِرِ عَلَى التَّفَهُّمِ فِي الشَّرِيعَةِ (مَنْ لَطَفَ بِهِ) أَيْ أَرَادَ بِهِ الْخَيْرَ (وَاخْتَارَهُ) لَهُ (مِنْ الْعِبَادِ) هَذَا مَأْخُوذٌ مِنْ حَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ «مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

Pengarang rh. Berkata : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Artinya aku mulai dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang. (Segala puji bagi Allah) Kalimat ini adalah sebagian dari bentuk kalimat pujian. -Pujian adalah menyifatkan dengan sesuatu yang indah.- Karena tujuan kalimat ini adalah menyanjung Allah dengan kandungannya (maknanya). Yaitu bahwa Allah adalah pemilik semua pujian dari para makhluk. Atau yang berhak mereka puji. Bukan menginformasikan tentang demikian. (Yang Maha Berbuat Baik) Artinya Yang berbuat baik. (Yang Maha Dermawan) Artinya yang banyak kedermawanan. Artinya pemberian. (Yang amat besar) Artinya agung. (nikmat-nikmatNya)  نعمadalah jamakنعمة   bermakna pemberian nikmat. (untuk dihitung) Artinya dibatasi. (dengan angka-angka) Artinya dengan semua angka. Jika kalian menghitung nikmat-nikmat Allah maka kalian tidak dapat menghinggakannya. (Ibrahim-34). (Yang Maha memberikan anugerah) Artinya memberikan nikmat. (dengan kebajikan) Artinya pemberian kemampuan berbuat taat. (dan pemberian petunjuk) Artinya petunjuk kepada ketaatan. (Yang Membimbing kepada jalan kebenaran) Artinya Yang menunjukkan jalan kebenaran. Kebenaran adalah lawan kesesatan. (Yang memberikan taufiq untuk memahami agama) Artinya Yang memberikan kemampuan memahami syariat. (kepada orang yang Dia bersimpati kepadanya) Artinya yang Dia kehendaki kebaikan kepadanya. (dan yang Dia pilih) untuk kebaikan itu (dari hamba-hambaNya) Ini dipahami dari Hadits Shahihain, Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya maka Allah pahamkan dia dalam bidang agama.

 

(أَحْمَدُهُ أَبْلَغَ حَمْدٍ) أَيْ أَنْهَاهُ (وَأَكْمَلَهُ وَأَزْكَاهُ) أَيْ أَنْمَاهُ (وَأَشْمَلَهُ) أَيْ أَعَمَّهُ الْمَعْنَى أَصِفُهُ بِجَمِيعِ صِفَاتِهِ إذْ كُلٌّ مِنْهَا جَمِيلٌ وَالْقَصْدُ بِذَلِكَ إيجَادُ الْحَمْدِ الْمَذْكُورِ، وَهُوَ أَبْلَغُ مِنْ حَمْدِهِ الْأَوَّلِ، وَذَلِكَ أَوْقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ حَيْثُ تَفْصِيلُهُ وَفِي حَدِيثِ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ «إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ» أَيْ نَحْمَدُهُ، لِأَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ لِلْحَمْدِ

(Aku memujiNya setinggi-tingginya) Artinya sehabis‑habisnya. (sesempurna-sempurnanya, seberkembang‑berkembangnya) Artinya setumbuh-tumbuhnya. (dan selengkap-lengkapnya) Artinya seumum-umunya. Artinya aku sifatkan Allah dengan semua sifat-sifatNya. Karena masing-masing SifatNya indah. Tujuannya adalah mewujudkan pujian tersebut. Pujian tersebut lebih tinggi dibanding pujian beliau yang pertama. Dan pujian pertama lebih tertanam dalam hati berhubung terperinci. Terdapat dalam Hadits Muslim dan lainnya, Sesungguhnya segala puji milik Allah. Kami memujiNya dan memohon pertolongan kepadaNya. Artinya kami memujiNya karena Dialah yang berhak pujian.

 

(وَأَشْهَدُ) أَيْ أَعْلَمُ (أَنْ لَا إلَهَ) لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ فِي الْوُجُودِ (إلَّا اللَّهُ) الْوَاجِبُ الْوُجُودِ (الْوَاحِدُ) أَيْ الَّذِي لَا تَعَدُّدَ لَهُ فَلَا يَنْقَسِمُ بِوَجْهٍ، وَلَا نَظِيرَ لَهُ، فَلَا مُشَابَهَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ بِوَجْهٍ (الْغَفَّارُ) أَيْ السَّتَّارُ لِذُنُوبِ مَنْ أَرَادَ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ فَلَا يُظْهِرُهَا بِالْعِقَابِ عَلَيْهَا، وَلَمْ يَقُلْ الْقَهَّارُ بَدَلَ الْغَفَّارِ لِأَنَّ مَعْنَى الْقَهْرِ مَأْخُوذٌ مِمَّا قَبْلَهُ إذْ مِنْ شَأْنِ الْوَاحِدِ فِي مُلْكِهِ الْقَهْرُ.

(Aku bersaksi) Artinya aku tahu (dan tunduk). (bahwa tiada Tuhan) Artinya tidak ada yang disembah dengan sebenarnya pada kenyataan. (melainkan Allah) yang wajib wujud (Yang Maha Esa) Artinya tidak berbilang. Maka Dia tidak terbagi dengan jalan apapun. Tidak ada bandingan bagiNya sehingga tidak ada kemiripan antara Dia dan selainNya dengan jalan apapun. (lagi Maha Pengampun) Artinya Maha menutupi dosa-dosa siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya yang beriman. Maka Allah tidak menampakkan dosa-dosa itu dengan siksaan kepada hamba-hambaNya. Pengarang tidak mengatakan "Maha Perkasa" sebagai ganti "Maha Pengampun" karena keperkasaan dapat dipahami dari sifat sebelumnya. Karena diantara karakter esa dalam kerajaanNya adalah keperkasaan.

 

(وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ) أَيْ مِنْ النَّاسِ لِيَدْعُوَهُمْ إلَى دِينِ الْإِسْلَامِ (صَلَّى اللَّه وَسَلَم عَلَيْهِ وَزَادَهُ فَضْلًا وَشَرَفًا لَدَيْهِ) أَيْ عِنْدَهُ وَالْقَصْدُ بِذَلِكَ الدُّعَاءُ أَيْ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَزِدْهُ. وَذَكَرَ التَّشَهُّدَ لِحَدِيثِ أَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ «كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ» أَيْ الْقَلِيلَةِ الْبَرَكَةِ.

(Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya yang dipilih) di antara manusia untuk menyeru mereka kepada agama Islam. (Kiranya Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya dan menambahkannya kemuliaan dan kehormatan di sisiNya.) Tujuannya doa. Artinya Ya Allah ! Limpahkan shalawat dan salam kepadanya dan tambahkan kepadanya. Beliau menyebutkan syahadat karena hadits Abi Daud dan Tarmidzi, Setiap khutbah yang tidak terdapat syahadat di dalamnya maka khutbah itu seperti tangan buntung. Artinya kurang berkah.

 

(أَمَّا بَعْدُ) أَيْ بَعْدَمَا تَقَدَّمَ (فَإِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْعِلْمِ) الْمَعْهُودِ شَرْعًا الصَّادِقِ بِالْفِقْهِ وَالْحَدِيثِ وَالتَّفْسِيرِ (مِنْ أَفْضَلِ  الطَّاعَاتِ) لِأَنَّهَا مَفْرُوضَةٌ وَمَنْدُوبَةٌ. وَالْمَفْرُوضُ أَفْضَلُ مِنْ الْمَنْدُوبِ، وَالِاشْتِغَالُ بِالْعِلْمِ مِنْهُ لِأَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَفِي حَدِيثٍ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ «فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ» (وَ) مِنْ (أَوْلَى مَا أُنْفِقَتْ فِيهِ نَفَائِسُ الْأَوْقَاتِ) وَهُوَ الْعِبَادَاتُ شَبَّهَ شَغْلَ الْأَوْقَاتِ بِهَا بِصَرْفِ الْمَالِ فِي وُجُوهِ الْخَيْرِ الْمُسَمَّى بِالْإِنْفَاقِ،

(Adapun setelah itu) Artinya setelah apa yang telah lalu. (maka sesungguhnya menekuni ilmu) yang dikenal pada syara' yang benar kepada Fiqih, Hadits dan Tafsir (adalah sebagian dari ketaatan yang lebih utama) Karena ketaatan ada yang wajib dan sunat. Wajib lebih utama dibanding sunat. Menekuni ilmu termasuk ketaatan yang wajib. Karena menekuni ilmu fardhu kifayah. Terdapat dalam Hadits yang dihasankan oleh Turmudzi,. Keutamaan orang alim atas ahli ibadah sama dengan keutamaanku atas orang yang paling rendah dari kalian. (dan) sebagian dari (sesuatu yang lebih utama yang waktu-waktu yang berharga diinfaqkan padanya.) Sesuatu itu adalah ibadah. Diserupakan mengisi waktu dengan ibadah dengan mendistribusikan harta di jalan kebaikan yang dinamakan dengan infaq.

 

وَوَصَفَ الْأَوْقَاتَ بِالنَّفَاسَةِ لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ تَعْوِيضُ مَا يَفُوتُ مِنْهَا بِلَا عِبَادَةٍ، وَأَضَافَ إلَيْهَا صِفَتَهَا لِلسَّجْعِ، وَقَدْ يُقَالُ: هُوَ مِنْ إضَافَةِ الْأَعَمِّ إلَى الْأَخَصِّ كَمَسْجِدِ الْجَامِعِ، وَلَا يَصِحُّ عَطْفُ أَوْلَى عَلَى مِنْ أَفْضَلِ لِلتَّنَافِي بَيْنَهُمَا عَلَى هَذَا التَّقْدِيرِ

Beliau menyifatkan waktu-waktu dengan berharga karena tidak mungkin menukar sesuatu yang terlewatkan darinya tanpa ibadah. Dan beliau mengidhafahkan sifatnya kepadanya untuk sajak. Kadang dikatakan itu termasuk idhafah `am kepada khas seperti "Masjid jami" . Tidak sah mengathaf "sesuatu yang lebih utama" kepada "sebagian dari yang lebih utama" karena bertentangan antara keduanya dengan perkiraan ini.

 

(وَقَدْ أَكْثَرَ أَصْحَابُنَا - رَحِمَهُمُ اللَّهُ - مِنْ التَّصْنِيفِ مِنْ الْمَبْسُوطَاتِ وَالْمُخْتَصَرَاتِ) فِي الْفِقْهِ وَالصُّحْبَةُ هُنَا الِاجْتِمَاعُ فِي اتِّبَاعِ الْإِمَامِ الْمُجْتَهِدِ فِيمَا يَرَاهُ مِنْ الْأَحْكَامِ مَجَازًا عَنْ الِاجْتِمَاعِ فِي الْعَشَرَةِ

(Sahabat-sahabat kami rh. telah banyak mengarang kitab-kitab dalam format besar dan kitab-kitab ringkasan) dalam bidang Fiqih. Sahabat di sini adalah berkumpul dalam mengikut seorang imam mujtahid pada hukum-hukum yang menjadi pendapatnya, sebagai majaz (metafora) dari berkumpul dalam pergaulan.

 

(وَأَتْقَنُ مُخْتَصَرٍ الْمُحَرَّرُ لِلْإِمَامِ أَبِي الْقَاسِم) إمَامِ الدِّينِ عَبْدِ الْكَرِيمِ (الرَّافِعِيِّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -) مَنْسُوبٌ إلَى رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ الصَّحَابِيِّ كَمَا وُجِدَ بِخَطِّهِ فِيمَا حَكَى - رَحِمَهُ اللَّهُ - (ذِي التَّحْقِيقَاتِ) الْكَثِيرَةِ فِي الْعِلْمِ وَالتَّدْقِيقَاتِ الْغَزِيرَةِ فِي الدِّينِ مِنْ كَرَامَاتِهِ مَا حُكِيَ أَنَّ شَجَرَةً أَضَاءَتْ عَلَيْهِ لَمَّا فَقَدَ وَقْتَ التَّصْنِيفِ مَا يُسْرِجُهُ عَلَيْهِ.

(Kitab ringkasan yang paling sempurna adalah Muharrar karya Imam Abi al-Qasim) Imamuddin `Abdil Karim (ar-Rafi'i rh.) Beliau dinisbahkan kepada Rafi' bin Khadij as-Shahabi, sebagaimana yang ditemukan dengan tulisan beliau menurut cerita. Kiranya Allah mengasihi beliau. (seseorang yang memiliki kecermatan) dalam ilmu dan ketelitian yang melimpah dalam bidang agama. Di antara karamah beliau adalah cerita orang bahwa pohon menyinari beliau ketika tidak ada sesuatu yang menerangi beliau saat mengarang.

 

(وَهُوَ) أَيْ الْمُحَرَّرُ (كَثِيرُ الْفَوَائِدِ عُمْدَةٌ فِي تَحْقِيقِ الْمَذْهَبِ) أَيْ مَا ذَهَبَ إلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ مِنْ الْأَحْكَامِ فِي الْمَسَائِلِ مَجَازًا عَنْ مَكَانِ الذَّهَابِ (مُعْتَمَدٌ لِلْمُفْتِي وَغَيْرِهِ مِنْ أُولِي الرَّغَبَاتِ) أَيْ أَصْحَابِهَا، وَهِيَ بِفَتْحِ الْغَيْنِ جَمْعُ رَغْبَةٍ بِسُكُونِهَا

(Dia) Artinya Muharrar. (banyak faedah, penting dalam mendalami mazhab) Artinya hukum-hukum dari berbagai masalah yang merupakan pendapat Syafi'i dan rekan-rekan beliau, sebagai majaz dari tempat pergi. (refrensi bagi mufti dan lainnya yaitu orang-orang yang memiiki kegemaran) Artinya orang-orang yang mempunyai kegemaran. الرغبات dengan fathah  غadalah jamak رغبة dengan sukun غ .

 

(وَقَدْ الْتَزَمَ مُصَنِّفُهُ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنْ يَنُصَّ) فِي مَسَائِلِ الْخِلَافِ (عَلَى مَا صَحَّحَهُ مُعْظَمُ الْأَصْحَابِ) فِيهَا (وَوَفَّى) بِالتَّخْفِيفِ وَالتَّشْدِيدِ (بِمَا الْتَزَمَهُ) حَسْبَمَا اطَّلَعَ عَلَيْهِ فَلَا يُنَافِي ذَلِكَ اسْتِدْرَاكَهُ عَلَيْهِ التَّصْحِيحَ فِي الْمَوَاضِعِ الْآتِيَةِ (وَهُوَ) أَيْ مَا الْتَزَمَهُ (مِنْ أَهَمِّ أَوْ) هُوَ (أَهَمُّ الْمَطْلُوبَاتِ) لِطَالِبِ الْفِقْهِ مِنْ الْوُقُوفِ عَلَى الْمُصَحَّحِ مِنْ الْخِلَافِ فِي مَسَائِلِهِ

(Pengarangnya senantiasa menyebutkan) pada masalah-masalah khilafiyah (menurut pendapat yang dishahihkan oleh kebanyakan sahabat) padanya. (Dan beliau lengkapi dengan pendapat yang beliau pegang) menurut hasil telaah beliau. Maka itu tidak bertentangan dengan protes Imam Nawawi kepada beliau mengenai pengshahihan pada sebagian tempat yang akan datang. (Dia) Artinya pendapat yang beliau pegang. (adalah sebagian yang terpenting. Atau) itu (yang terpenting yang dicari) oleh para pelajar Fiqih, yaitu kebutuhan terhadap pendapat yang dishahihkan dari perselisihan pada masalah-masalah khilafiyah.

 

(لَكِنْ فِي حَجْمِهِ) أَيْ الْمُحَرَّرِ (كَبُرَ عَنْ أَنْ يُعْجِزَ حِفْظُهُ أَكْثَرَ أَهْلِ الْعَصْرِ) أَيْ الرَّاغِبِينَ فِي حِفْظِ مُخْتَصَرٍ فِي الْفِقْهِ (إلَّا بَعْضَ أَهْلِ الْعِنَايَاتِ) مِنْهُمْ فَلَا يَكْبُرُ، أَيْ يَعْظُمُ عَلَيْهِ حِفْظُهُ (فَرَأَيْت) مِنْ الرَّأْيِ فِي الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ (اخْتِصَارَهُ) بِأَنْ لَا يَفُوتَ شَيْءٌ مِنْ مَقَاصِدِهِ (فِي نَحْوِ نِصْفِ حَجْمِهِ) هُوَ صَادِقٌ بِمَا وَقَعَ فِي الْخَارِجِ مِنْ الزِّيَادَةِ عَلَى النِّصْفِ بِيَسِيرٍ (لِيَسْهُلَ حِفْظُهُ) أَيْ الْمُخْتَصَرِ لِكُلِّ مَنْ يَرْغَبُ فِي حِفْظِ مُخْتَصَرٍ (مَعَ مَا) أَيْ مَصْحُوبًا ذَلِكَ الْمُخْتَصَرُ بِمَا (أَضُمُّهُ إلَيْهِ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى) فِي أَثْنَائِهِ. وَبِذَلِكَ قَرُبَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَرْبَاعِ أَصْلِهِ كَمَا قِيلَ (مِنْ النَّفَائِسِ الْمُسْتَجَادَاتِ) أَيْ الْمُسْتَحْسَنَاتِ

(Namun bentuknya) Artinya Muharrar. (besar sehingga lemah menghafalnya kebanyakan orang di masa itu) Artinya orang-orang yang gemar menghafal kitab ringkasan dalam bidang Fiqih. (Kecuali sebagian orang yang antusias) di antara mereka. Maka dia tidak berat menghafalnya. (Maka aku mempertimbangan) رأيت dari kata رأى (mempertimbangkan) yang berkaitan dengan perkara‑perkara penting. (meringkasnya) dengan pengertian tidak hilang sedikitpun dari tujuan-tujuannya. (menjadi kira-kira setengah bentuknya) kira-kira setengah itu dapat dibenarkan untuk lebih sedikit dari setengah yang terjadi pada kenyataan. (agar mudah menghafalnya) artinya ringkasan tersebut, bagi setiap orang yang gemar menghafal kitab ringkasan. (Disertai sesuatu) artinya ringkasan tersebut disertai sesuatu (yang aku tambahkan kepadanya insya Allah Ta'ala) ketika sedang meringkas. Dengan tambahan itu kitab ringkasan ini mendekati tiga perempat kitab asalnya seperti yang orang katakan. (berupa karya-karya berharga yang dianggap bagus) Artinya dianggap baik.

 

(مِنْهَا التَّنْبِيهُ عَلَى قُيُودٍ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ) بِأَنْ تُذْكَرَ فِيهَا (هِيَ مِنْ الْأَصْلِ مَحْذُوفَاتٌ) أَيْ مَتْرُوكَاتٌ اكْتِفَاءً بِذِكْرِهَا فِي الْمَبْسُوطَاتِ (وَمِنْهَا مَوَاضِعُ يَسِيرَةٌ) نَحْوُ خَمْسِينَ مَوْضِعًا (ذَكَرَهَا فِي الْمُحَرَّرِ عَلَى خِلَافِ الْمُخْتَارِ فِي الْمَذْهَبِ) الْآتِي ذِكْرُهُ فِيهَا مُصَحَّحًا (كَمَا سَتَرَاهَا إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى) فِي مُخَالَفَتِهَا لَهُ نَظَرًا لِلْمَدَارِكِ (وَاضِحَاتٍ) فَذِكْرُ الْمُخْتَارِ فِيهَا هُوَ الْمُرَادُ، وَلَوْ عَبَّرَ بِهِ أَوَّلًا كَانَ حَسَنًا

(Di antaranya adalah peringatan atas kait-kait pada sebagian masalah) Artinya kait-kait itu dicantumkan pada masalah-masalah itu. (yang kait-kait itu dihilangkan dari kitab asal) Artinya ditinggalkan karena cukup disebutkan kait-kait itu dalam kitab-kitab dengan format besar. (Dan di antaranya adalah beberapa tempat yang sedikit) kira-kira lima puluh tempat (yang disebutkan dalam Muharrar menyalahi pendapat kuat dalam mazhab) yang nanti akan disebutkan pendapat yang kuat itu pada beberapa tempat tadi dengan sudah dikoreksi (seperti yang akan anda lihat insya Allah Ta'ala) berseberangannya beberapa tempat tadi dengan pendapat yang kuat karena melihat dalil-dalilnya. (dengan jelas.) Maka menyebutkan pendapat kuat pada beberapa tempat tadi itulah yang dimaksud. Seandainya sejak awal beliau menyebutkan pendapat kuat tentu baik.

 

(وَمِنْهَا إبْدَالُ مَا كَانَ مِنْ أَلْفَاظِهِ غَرِيبًا) أَيْ غَيْرَ مَأْلُوفِ الِاسْتِعْمَالِ (أَوْ مُوهِمًا) أَيْ مُوقِعًا فِي الْوَهْمِ أَيْ الذِّهْنَ (خِلَافَ الصَّوَابِ) أَيْ الْإِتْيَانُ بَدَلَ ذَلِكَ (بِأَوْضَحَ وَأَخْصَرَ مِنْهُ بِعِبَارَاتٍ جَلِيَّاتٍ) أَيْ ظَاهِرَاتٍ فِي أَدَاءِ الْمُرَادِ، وَأَدْخَلَ الْبَاءَ بَعْدَ لَفْظِ الْإِبْدَالِ عَلَى الْمَأْتِيِّ بِهِ مُوَافَقَةً لِلِاسْتِعْمَالِ الْعُرْفِيِّ وَإِنْ كَانَ خِلَافَ الْمَعْرُوفِ لُغَةً مِنْ إدْخَالِهَا عَلَى الْمَتْرُوكِ نَحْوَ: أَبْدَلْت الْجَيِّدَ بِالرَّدِيءِ، أَيْ أَخَذْت الْجَيِّدَ بِالرَّدِيءِ.

(Dan di antaranya penukaran kata-katanya yang asing) Artinya yang tidak biasa dalam pemakaian. (atau yang menimbulkan dugaan) Artinya yang menimbulkan dalam dugaan, artinya pikiran. (menyalahi kebenaran) Artinya mendatangkan penggantinya (dengan yang lebih jelas dan lebih ringkas dibandingkannya dengan ungkapan- ungkapan yang terang) Artinya jelas dalam menyampaikan maksud. Memasukkan ب padayang didatangkansetelah kata menukar sesuai dengan pemakaian kebiasaan meskipun menyalahi yang dikenal dalam bahasa yaitu memasukkan pada “yang ditinggalkan”. Contohnya Aku tukar yang bagus dengan yang jelek. Artinya aku ambil yang bagus sebagai ganti yang jelek.

 

(وَمِنْهَا بَيَانُ الْقَوْلَيْنِ وَالْوَجْهَيْنِ وَالطَّرِيقَيْنِ وَالنَّصِّ وَمَرَاتِبِ الْخِلَافِ) قُوَّةً وَضَعْفًا فِي الْمَسَائِلِ (فِي جَمِيعِ الْحَالَاتِ) بِخِلَافِ الْمُحَرَّرِ فَتَارَةً يُبَيِّنُ نَحْوَ أَصَحِّ الْقَوْلَيْنِ وَأَظْهَرِ الْوَجْهَيْنِ، وَتَارَةً لَا يُبَيِّنُ نَحْوَ الْأَصَحِّ وَالْأَظْهَرِ (فَحَيْثُ أَقُولُ فِي الْأَظْهَرِ أَوْ الْمَشْهُورِ فَمِنْ الْقَوْلَيْنِ أَوْ الْأَقْوَالِ) لِلشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - (فَإِنْ قَوِيَ الْخِلَافُ) لِقُوَّةِ مُدْرَكِهِ (قُلْت الْأَظْهَرُ) الْمُشْعِرُ بِظُهُورِ مُقَابِلِهِ (وَإِلَّا فَالْمَشْهُورُ) الْمُشْعِرُ بِغَرَابَةِ مُقَابِلِهِ لِضَعْفِ مُدْرَكِهِ.

(Dan di antaranya adalah penjelasan dua qoul (pendapat), dua wajah (sudut pandang), dua thariq (jalur hikayah / versi), nas (statement / pernyataan) dan urutan-urutan perselisihan) kuat dan lemahnya pada masalah-masalah (dalam semua keadaan.) Berbeda dengan Muharrar. Terkadang Muharrar menjelaskan misalnya yang Ashah dari dua qoul dan yang Azhar dari dua wajah. Dan terkadang tidak menjelaskan misalnya yang Ashah dan Azhar. (Maka di mana aku katakan menurut Azhar atau Masyhur maka itu dari dua qoul atau beberapa qoul) Syafi'i rh. (Seandainya kuat perselisihan) Karena kuat dalilnya (maka aku katakan Azhar) Yang mengindikasikan bahwa lawannya jelas. (Jika tidak maka Masyhur) yang mengindikasikan bahwa lawannya asing karena lemah dalilnya.

 

(وَحَيْثُ أَقُولُ الْأَصَحُّ أَوْ الصَّحِيحُ فَمِنْ الْوَجْهَيْنِ أَوْ الْأَوْجُهِ) لِلْأَصْحَابِ يَسْتَخْرِجُونَهَا مِنْ كَلَامِ الشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - (فَإِنْ قَوِيَ الْخِلَافُ قُلْت الْأَصَحُّ وَإِلَّا فَالصَّحِيحُ) وَلَمْ يُعَبِّرْ بِذَلِكَ فِي الْأَقْوَالِ تَأَدُّبًا مَعَ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - كَمَا قَالَ، فَإِنَّ الصَّحِيحَ مِنْهُ مُشْعِرٌ بِفَسَادِ مُقَابِلِهِ.

(Dan di mana aku katakan Ashah atau Shahih maka itu dari dua wajah atau beberapa wajah) milik ashab. Mereka menggali wajah-wajah (sudut pandang-sudut pandang) itu dari perkataan Syafi'i ra. (Jika kuat perselisihan maka aku katakan Ashah. Jika tidak maka Shahih.) Beliau tidak mengungkapkan dengan demikian pada qoul-qoul sebagai etika dengan Imam Syafi'i ra. sebagaimana yang pernah beliau katakan. Karena ungkapan shahih (yang benar) mengindikasikan lawannya salah.

 

(وَحَيْثُ أَقُولُ الْمَذْهَبُ فَمِنْ الطَّرِيقَيْنِ أَوْ الطُّرُقِ) وَهِيَ اخْتِلَافُ الْأَصْحَابِ فِي حِكَايَةِ الْمَذْهَبِ كَأَنْ يَحْكِيَ بَعْضُهُمْ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلَيْنِ أَوْ وَجْهَيْنِ لِمَنْ تَقَدَّمَ، وَيَقْطَعَ بَعْضُهُمْ بِأَحَدِهِمَا ثُمَّ الرَّاجِحُ الَّذِي عَبَّرَ عَنْهُ بِالْمَذْهَبِ إمَّا طَرِيقُ الْقَطْعِ أَوْ الْمُوَافِقِ لَهَا مِنْ طَرِيقِ الْخِلَافِ أَوْ الْمُخَالِفِ لَهَا كَمَا سَيَظْهَرُ فِي الْمَسَائِلِ، وَمَا قِيلَ مِنْ أَنَّ مُرَادَهُ الْأَوَّلُ وَأَنَّهُ الْأَغْلَبُ مَمْنُوعٌ (وَحَيْثُ أَقُولُ النَّصُّ فَهُوَ نَصُّ الشَّافِعِيِّ - رَحِمَهُ اللَّهُ - وَيَكُونُ هُنَاكَ) أَيْ مُقَابِلُهُ (وَجْهٌ ضَعِيفٌ أَوْ قَوْلٌ مُخَرَّجٌ) مِنْ نَصٍّ لَهُ فِي نَظِيرِ الْمَسْأَلَةِ لَا يُعْمَلُ بِهِ.

(Dan di mana aku katakan Mazhab maka itu dari dua thariq atau beberapa thariq.) Thariq adalah perselisihan ashab dalam menceritakan mazhab. Contohnya sebagian mereka menceritakan pada satu masalah dua qoul atau dua wajah ashab yang terdahulu. Dan sebagian mereka memutuskan dengan salah satunya (menceritakan salah satunya saja). Kemudian yang kuat yang diungkapkan dengan Mazhab adakalanya thariq qatha' (memutuskan satu pendapat / tidak ada perselisihan), atau yang sesuai dengan thariq qatha' dari thariq khilaf (jalur yang menceritakan perselisihan) atau menyalahi thariq qatha', sebagaimana nanti akan jelas pada masalah-masalah. Apa yang orang katakan bahwa yang dimaksud Mazhab adalah yang pertama (thariq qatha') dan itu yang paling sering itu ditolak. (Dan di mana aku katakan Nas maka itu adalah Nas Syafi'i rh. Dan di sana) Artinya lawannya. (ada wajah lemah atau qoul mukharraj (pendapat yang direkayasa)) dari Nas Syafi'i pada masalah yang sebanding. Lawannya tersebut tidak bisa diamalkan.

 

(وَحَيْثُ أَقُولُ الْجَدِيدُ فَالْقَدِيمُ خِلَافُهُ أَوْ الْقَدِيمُ أَوْ فِي قَوْلٍ قَدِيمٍ فَالْجَدِيدُ خِلَافُهُ) . وَالْقَدِيمُ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِالْعِرَاقِ، وَالْجَدِيدُ مَا قَالَهُ بِمِصْرَ، وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ إلَّا فِيمَا يُنَبِّهُ عَلَيْهِ كَامْتِدَادِ وَقْتِ الْمَغْرِبِ إلَى مَغِيبِ الشَّفَقِ الْأَحْمَرِ فِي الْقَدِيمِ كَمَا سَيَأْتِي. 

(Dan di mana aku katakan Jadid (pendapat baru) maka Qadim (pendapat lama) adalah lawannya. Atau Qadim atau menurut pendapat Qadim maka Jadid adalah lawannya.) Pendapat Qadim adalah pendapat Imam Syafi'i di `Iraq. Sedangkan Jadid adalah pendapat beliau di Mesir. Mengamalkan mesti dengan pendapat Jadid kecuali pada kasus yang beliau berikan peringatan, seperti lamanya waktu Maghrib hingga waktu hilang sinar merah menurut Qadim seperti keterangan nanti.

 

(وَحَيْثُ أَقُولُ: وَقِيلَ كَذَا، فَهُوَ وَجْهٌ ضَعِيفٌ، وَالصَّحِيحُ أَوْ الْأَصَحُّ خِلَافُهُ وَحَيْثُ أَقُولُ: وَفِي قَوْلٍ كَذَا فَالرَّاجِحُ خِلَافُهُ) وَيَتَبَيَّنُ قُوَّةُ الْخِلَافِ وَضَعْفُهُ مِنْ مُدْرَكِهِ

(Dan di mana aku katakan "menurut sementara ulama begini" maka itu adalah wajah lemah. Shahih dan Ashah adalah lawannya. Dan di mana aku katakan "menurut satu pendapat begini" maka pendapat kuat adalah lawannya.) Dan akan jelas kuat dan lemahnya perselisihan dari dalilnya.

 

(وَمِنْهَا مَسَائِلُ نَفِيسَةٌ أَضُمُّهَا إلَيْهِ) أَيْ إلَى الْمُخْتَصَرِ فِي مَظَانِّهَا (يَنْبَغِي أَنْ لَا يُخْلَى الْكِتَابُ) أَيْ الْمُخْتَصَرُ وَمَا يُضَمُّ إلَيْهِ (مِنْهَا) صَرَّحَ بِوَصْفِهَا الشَّامِلِ لَهُ مَا تَقَدَّمَ، وَزَادَ عَلَيْهِ إظْهَارًا لِلْعُذْرِ فِي زِيَادَتِهَا فَإِنَّهَا عَارِيَّةٌ عَنْ التَّنْكِيتِ بِخِلَافِ مَا قَبْلَهَا (وَأَقُولُ فِي أَوَّلِهَا قُلْت وَفِي آخِرِهَا، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ) لِتَتَمَيَّزَ عَنْ مَسَائِلِ الْمُحَرَّرِ، وَقَدْ قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ فِي اسْتِدْرَاكِ التَّصْحِيحِ عَلَيْهِ، وَقَدْ زَادَ عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ تَمْيِيزٍ كَقَوْلِهِ فِي فَصْلِ الْخَلَاءِ وَلَا يَتَكَلَّمُ

(Dan di ataranya adalah masalah-masalah berharga yang aku tambahkan kepadanya) Artinya kepada kitab ringkasan tersebut pada tempat-tempatnya yang cocok. (yang sepatutnya tidak kosong kitab) Artinya kitab ringkasan dan tambahannya. (darinya.) Beliau menyebutkan sifat masalah-masalah itu yang tercakup oleh perkataan yang lalu (karya-karya berharga yang dianggap bagus) dan beliau tambahkan lagi sifatya (yang sepatutnya ....) karena menampakkan keharusan menambahkannya. Karena masalah-masalah itu sunyi dari bantahan. Berbeda dengan yang sebelumnya (peringatan kaid dan pengshahihan). (Aku berkata pada awalnya "Komentar saya" dan pada akhirnya والله اعلم ) Agar terbedakan dari masalah-masalah Muharrar. Tapi terkadang beliau mengatakan seperti itu dalam mengkritik pengshahihan Muharrar. Dan terkadang beliau menambahkannya tanpa pembedaan. Seperti perkataan beliau pada fasal wc, dan tidak bicara.

 

(وَمَا وَجَدْته) أَيُّهَا النَّاظِرُ فِي هَذَا الْمُخْتَصَرِ (مِنْ زِيَادَةِ لَفْظَةٍ وَنَحْوِهَا عَلَى مَا فِي الْمُحَرَّرِ فَاعْتَمِدْهَا فَلَا بُدَّ مِنْهَا) كَزِيَادَةِ كَثِيرٍ وَفِي عُضْوٍ ظَاهِرٍ فِي قَوْلِهِ فِي التَّيَمُّمِ إلَّا أَنْ يَكُونَ بِجُرْحِهِ دَمٌ كَثِيرٌ أَوْ الشَّيْنُ الْفَاحِشُ فِي عُضْوٍ ظَاهِرٍ. (وَكَذَا مَا وَجَدْته مِنْ الْأَذْكَارِ مُخَالِفًا لِمَا فِي الْمُحَرَّرِ وَغَيْرِهِ مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ فَاعْتَمِدْهُ فَإِنِّي حَقَّقْته مِنْ كُتُبِ الْحَدِيثِ الْمُعْتَمَدَةِ) فِي نَقْلِهِ لِاعْتِنَاءِ أَهْلِهِ بِلَفْظِهِ بِخِلَافِ الْفُقَهَاءِ فَإِنَّهُمْ يَعْتَنُونَ غَالِبًا بِمَعْنَاهُ

(Apa yang anda temukan) Wahai orang yang memperhatikan kitab ringkasan ini, (berupa tambahan satu kata dan semisalnya atas keterangan dalam Muharrar maka peganglah tambahan itu karena tambahan itu harus ada.) Seperti tambahan "Yang banyak" dan "pada anggota yang nampak" pada perkataan beliau pada tayammum "kecuali pada _lukanya ada darah yang banyak atau cacat yang keji pada anggota yang nampak". (Begitu juga zikir-zikir yang anda temukan yang berbeda dengan yang ada dalam Muharrar dan kitab-kitab Fiqih lainnya. Maka peganglah. Karena saya telah menelitinya dari kitab-kitab Hadits yang dapat dipercaya) dalam mengutipnya. Karena Ilmuwan hadits mementingkan lafaznya. Berbeda dengan ilmuwan Fiqih. Karena biasanya mereka mementingkan maknanya.

 

(وَقَدْ أُقَدِّمُ بَعْضَ مَسَائِلِ الْفَصْلِ لِمُنَاسِبَةٍ أَوْ اخْتِصَارٍ وَرُبَّمَا قَدَّمْت فَصْلًا لِلْمُنَاسِبَةِ) كَتَقْدِيمِ فَصْلِ التَّخْيِيرِ فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ عَلَى فَصْلِ الْفَوَاتِ وَالْإِحْصَارِ

(Dan terkadang saya mendahulukan sebagian masalah dalam satu fasal karena kesesuaian atau peringkasan. Dan terkadang saya dahulukan satu fasal karena kesesuaian.) Contohnya mendahulukan fasal memilih pada kifarat berburu (bab larangan dalam ihram) atas fasal terlewatkan (haji) dan hadangan.

 

(وَأَرْجُو إنْ تَمَّ هَذَا الْمُخْتَصَرُ) وَقَدْ تَمَّ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ (أَنْ يَكُونَ فِي مَعْنَى الشَّرْحِ لِلْمُحَرَّرِ فَإِنِّي لَا أَحْذِفُ) أَيْ أُسْقِطُ (مِنْهُ شَيْئًا مِنْ الْأَحْكَامِ أَصْلًا وَلَا مِنْ الْخِلَافِ وَلَوْ كَانَ وَاهِيًا) أَيْ ضَعِيفًا جِدًّا مَجَازًا عَنْ السَّاقِطِ (مَعَ مَا) أَيْ آتِي بِجَمِيعِ مَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ مَصْحُوبًا بِمَا (أَشَرْت إلَيْهِ مِنْ النَّفَائِسِ) الْمُتَقَدِّمَةِ

(Saya berharap jika kitab ringkasan ini telah rampung) Alhamdulillah, kitab ringkasan ini telah rampung. (dapat bermakna ulasan untuk Muharrar. Karena saya sama sekali tidak membuang) Artinya hilangkan. (dari Muharrar, sedikitpun dari pada hukum-hukum. Dan tidak juga perselisihan meskipun lemah) Artinya lemah sekali, sebagai majaz dari runtuh. (disertai apa) Artinya aku kemukakan semua yang terkandung dalam Muharrar disertai dengan apa (yang aku isyarahkan kepadanya yaitu karya-karya berharga) yang lalu.

 

(وَقَدْ شَرَعْتُ) مَعَ الشُّرُوعِ فِي هَذَا الْمُخْتَصَرِ (فِي جَمْعِ جُزْءٍ لَطِيفٍ عَلَى صُورَةِ الشَّرْحِ لِدَقَائِقَ هَذَا الْمُخْتَصَرِ) مِنْ حَيْثُ الِاخْتِصَارُ (وَمَقْصُودِي بِهِ التَّنْبِيهُ عَلَى الْحِكْمَةِ فِي الْعُدُولِ عَنْ عِبَارَةِ الْمُحَرَّرِ وَفِي إلْحَاقِ قَيْدٍ أَوْ حَرْفٍ) فِي الْكَلَامِ (أَوْ شَرْطٍ لِلْمَسْأَلَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ) مِمَّا بَيَّنَهُ (وَأَكْثَرُ ذَلِكَ مِنْ الضَّرُورِيَّاتِ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْهَا) وَمِنْهُ مَا لَيْسَ بِضَرُورِيٍّ، وَلَكِنَّهُ حَسَنٌ كَمَا قَالَهُ فِي زِيَادَةِ لَفْظَةِ الطَّلَاقِ فِي قَوْلِهِ فِي الْحَيْضِ: فَإِذَا انْقَطَعَ لَمْ يَحِلَّ قَبْلَ الْغُسْلِ غَيْرُ الصَّوْمِ وَالطَّلَاقِ، فَإِنَّ الطَّلَاقَ لَمْ يُذْكَرْ قَبْلُ فِي الْمُحَرَّمَاتِ.

(Sesungguhnya saya telah memulai) bersamaan dengan memulai kitab ringkasan ini (mengumpulkan satu jilid kecil dengan format ulasan untuk masalah-masalah yang halus dari kitab ringkasan ini) berhubung ringkasnya. (Tujuanku adalah mengingatkan hikmah pada peralihan dari ungkapan Muharrar dan pada penambahan satu kait atau satu huruf) dalam sebuah kalimat (atau satu syarat untuk satu masalah dan lain sebagainya) dari apa saja yang beliau terangkan (dalam jilid kecil itu). (Kebanyakan adalah hal-hal yang sangat perlu yang tidak bisa diabaikan.) Sebagiannya ada yang tidak terlalu perlu tapi bagus. Seperti apa yang beliau katakan dalam menambahkan kata "cerai" pada perkataan beliau pada haidh, maka bila haidh telah berhenti tidak boleh sebelum mandi selain puasa dan cerai. Sesungguhnya cerai tidak disebutkan sebelumnya pada perkara-perkara yang diharamkan.

 

(وَعَلَى اللَّهِ الْكَرِيمِ اعْتِمَادِي) فِي تَمَامِ هَذَا الْمُخْتَصَرِ بِأَنْ يُقَدِّرَنِي عَلَى إتْمَامِهِ كَمَا أَقْدَرَنِي عَلَى ابْتِدَائِهِ بِمَا تَقَدَّمَ عَلَى وَضْعِ الْخُطْبَةِ فَإِنَّهُ لَا يَرُدُّ مَنْ سَأَلَهُ وَاعْتَمَدَ عَلَيْهِ، (وَإِلَيْهِ تَفْوِيضِي وَاسْتِنَادِي) فِي ذَلِكَ وَغَيْرِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَخِيبُ مَنْ قَصَدَهُ وَاسْتَنَدَ إلَيْهِ،

(Hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah aku berpegang) untuk rampungnya kitab ringkasan ini, dengan memberikan kemampuan kepadaku untuk merampungkannya. Sebagaimana Dia telah memberikan kemampuan kepadaku untuk memulainya dengan apa yang sudah lalu dalam penyusunan khutbah. Karena sesungguhnya Dia tidak akan menolak orang yang meminta dan berpegang kepadaNya. (Dan hanya kepadaNya aku pasrah dan bersandar) dalam hal itu dan lainnya. Karena sesungguhnya Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang bermaksud dan bersandar kepadaNya.

 

ثُمَّ قَدَّرَ وُقُوعَ الْمَطْلُوبِ بِرَجَاءِ الْإِجَابَةِ فَقَالَ: (وَأَسْأَلُهُ النَّفْعَ بِهِ) أَيْ بِالْمُخْتَصَرِ فِي الْآخِرَةِ (لِي) بِتَأْلِيفِهِ (وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ) أَيْ بَاقِيهِمْ بِأَنْ يُلْهِمَهُمْ الِاعْتِنَاءَ بِهِ بَعْضُهُمْ بِالِاشْتِغَالِ بِهِ كَكِتَابَةٍ وَقِرَاءَةٍ وَتَفَهُّمٍ وَشَرْحٍ، وَبَعْضُهُمْ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَالْإِعَانَةِ عَلَيْهِ بِوَقْفٍ أَوْ نَقْلٍ إلَى الْبِلَادِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَنَفْعُهُمْ يَسْتَتْبِعُ نَفْعَهُ أَيْضًا لِأَنَّهُ سَبَبٌ فِيهِ (وَرِضْوَانَهُ عَنِّي وَعَنْ أَحِبَّائِي) بِالتَّشْدِيدِ وَالْهَمْزِ جَمْعُ حَبِيبٍ أَيْ مَنْ أُحِبُّهُمْ (وَجَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ) مِنْ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى بَعْضِ أَفْرَادِهِ تَكَرَّرَ بِهِ الدُّعَاءُ لِذَلِكَ الْبَعْضِ الَّذِي مِنْهُ الْمُصَنِّفُ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -.

Kemudian beliau menganggap telah terwujud permintaan beliau dengan harapan diperkenankan. Maka beliau berkata (Dan aku mohon kepadaNya manfaatnya) Artinya kitab ringkasan, di akhirat. (untukku) dengan menyusunnya. (dan untuk seluruh umat Islam.) Artinya sekalian mereka dengan memberikan mereka sugesti untuk memperhatikannya. Sebagian mereka dengan menekuninya seperti menulis, membaca, memahami dan mengulas. Dan sebagian lagi dengan selain itu seperti membantunya dengan waqaf atau pengiriman ke daerah-daerah atau selain itu. Bermanfaat untuk mereka otomatis bermanfaat untuk beliau juga. Karena beliau adalah penyebabnya. (Kiranya Dia merestui aku dan orang-orang yang aku cintai dan semua orang yang beriman.) Sebagian dari athaf `am kepada sebagian substansinya. Dengannya berulang doa untuk sebagian itu yang sebagiannya adalah pengarang rh.

 

__________


bagi ikhwan yang ingin membaca terjemah ini secara offline, silahkan unduh aplikasi androidnya dibawah ini. setelah unduhan selesai, extrac file tersebut kemudian file siap di install. semoga bermanfaat.

Nama : terjemah khutbah mahally

Ekstensi : apk

Ukuran : 4 MB

Unduh disini